Kamis, 22 Oktober 2015

Wisata? Ya, semua kita pasti sering mendengarnya dan juga bisa jadi sering menikmatinya karena banyak sekali orang yang suka jalan-jalan. Jalan-jalan biasanya yang tergolong menarik adalah daerah pegunungan atau pantai. Lebih asyik lagi jika pantai tersebut masih asri, belum banyak terjamah orang, tentu udaranya lebih segar. Sebetulnya bukan hanya pantai saja yang kita harapkan udaranya dan alamnya yang segar, tentunya alam pegunungan pun demikian, meskipun kini banyak kawasan wisata baik pantai maupun pegunungan sudah mulai tercemar udaranya. Sebut saja kawasan puncak misalnya. Yang dahulunya masih segar, kini sudah mulai banyak bangunan berupa villa, penginapan, toko, kantor, dan sebagainya.

Sebetulnya masih banyak daerah yang masih asri. Salah satu persembahan alam yang masih segar dan banyak diminati pengunjung adalah Kebun Raya Cibodas. Taman wisata ini selalu ramai dengan pengunjung, terutama di hari libur meskipun mereka harus berkelahi melawan kesabaran dalam kemacetan yang luar biasa. Namun demi tercapainya kepuasan menghirup udara segar, ketenangan, mengusir kepenatan setelah lelah dengan kesibukan sehari-hari dengan berbagai masalah yang ada, mereka rela membayarnya dengan diri dan finansialnya.



Wisata Pantai seperti tersebut di atas, merupakan kawasan wisata yang banyak diminati wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara. Pantai juga dapat menghilangkan kepenatan jika kita benar-benar menikmatinya. Ada juga yang berteriak dengan keras untuk mewujudkan itu, atau mungkinbjuga memandang lepas sambil berkata dalam hati "pergilah wahai pikiran yang mengganggu dan enyahlah penyakit!". Tapi yang jelas, dengan banyak memandang, mengobservasi, dan mengingat yang Maha Kuasa, atas segala keindahan ciptaanNya tentunya akan membuat kita lebih fresh bukan?


Pantai Klayar, sebagian dari kita mungkin pernah mendengarnya. Kami pernah iseng-iseng jalan-jalan ke sana. Berangkat dari Solo sekitar pukul sembilan pagi. Ketika sampai daerah waduk Gajah Mungkur, sekitar 5 km ke arah pacitan, seekor ular kobra yang cukup besar melintas di depan mobil yang kami tumpangi, hampir saja tetlindas!

Perjalanan pun kami lanjutkan hingga akhirnya kami sampai di desa Kalak. Kami sempat melintasi pemakaman umum. Jarang sekali terdapat rumah. Jalanan masih berbatu. Kanan dan kiri jalan dihiasi pohon-pohon jati yang tumbuh di atas tanah yang gersang. Jarang sekali kendaraan yang melintas. Ada rasa was was yang mengganggu kami saat itu. Tiba-tiba tidak lama setelah itu kami dikejutkan dengan seorang kakek yang memanggil kami yang meminta kami untuk berhenti. Ia bertanya kami mau kemana, dan kami menjawab mau ke Klayar. Ia meminta sedekah, lalu kami berikan sebungkus rokok, namun ia menolak, ia ingin uang sejumlah 20.000. Kami pun memberinya dengan ikhlas. Setelah menerima uang kami, ia berpesan agar kami hati-hati dan di Klayar ada orang gila berbaju kuning. Entah apa maksudnya. Akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan sambil berdoa, karena untuk kembali pun tidak mungkin, sudah terlanjur jauh.

Sesampainya di Klayar, kami disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Pantai yang biru dan pasir putih membuat kami lupa dengan kejadian yang agak sedikt ganjil tadi. Kami pun berfoto-foto, bermain, menelusuri pantainya yang bening berhiaskan bulu babi dan ikan ikan kecil lucu yang tampak jelas, dan mencari kerang dan rumah kulomang yang sudah ditinggal pemiliknya. Di sana juga ada batu karang yang bisa bersiul, namun kami tidak boleh menghampirinya oleh salah seorang penjaga di sana.

Tidak jauh dari tempat kami bermain ada seorang wanita paruh baya berbaju kuning yang tampak bersuka ria di pantai sambil berteriak-teriak. Kami sempat berpikir mungkin itu yang dimaksud kakek tadi. Hmmm entahlah...


Ketika kami cukup lelah, akhirnya kami memutuskan untuk mencari warung makan. Dan alangkah terkejutnya kami ketika seorang wanita yang melayani di warung itu bilang bahwa sedikit sekali orang yang melewati tempat kami tadi karena sering terjadi hal-hal aneh.